Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

BAMBANG PAMUNGKAS, idola, panutan dan seribu kata yang tak pernah cukup….

Posted by Master Community On Jumat, 24 Februari 2012 0 komentar
.
Siang itu kegiatan gw membaca tabloid kesayangan gw agak terganggu oleh ulah dua bocah yg “beradu” argument.
 
“Bepe yg paling jago, nyundulnya hebat” ujar bocah yg kebetulan saat itu memakai jersey persija bernomor 20 bertuliskan BAMBANG P di bagian belakangnya.
“Gak bisa, gonjales paling jago” bocah satunya tak mau kalah mengeluarkan pujian pada pemain jagoannya,dan kebetulan pula dia memakai kaos merah timnas dengan nama GONZALES
 
Kegiatan membaca gw benar-benar gw hentikan, ehmmmm Bambang Pamungkas, sosok yang tak mungkin di lepaskan dari hingar bingar sepakbola nasional dalam kurun waktu 1 dekade terakhir.
 
Pemain kelahiran salatiga, 10 Juni 1980 ikon klub PERSIJA JAKARTA, satu-satunya klub profesional dalam negeri yg pernah ia bela hingga saat ini, loyalis yang mungkin akan sangat sedikit kita jumpai keidentikannya sekarang ini.
 
Awal karirnya, kesan yang timbul ketika di sebutkan nama bepe adalah jago header. Ya, Bepe adalah penyundul kelas wahid negeri ini, yang jika diperhatikan lebih seksama sangat kontras dengan tinggi badannya “hanya” 168 cm.
 
Tapi kini orang (gw khususnya) mengenal sosok Bambang pamungkas bukan hanya sebagai raja udara,
tapi lebih dari itu, berbicara skill maaf kalo gw berani menyebut bambang adalah tipikal pemain dengan teknik komplet,  kaki kanan,kiri dan kepalanya hidup, tendangan bebasnya pun berkelas.
 
Selain itu seorang bepe adalah profesional sejati, loyalis, santun, pintar, dan pemain tingkat intelejensia yg tinggi karena satu dari sedikit pemain Indonesia yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa inggris dengan baik, ganjaran yang sudah sepantasnya didapatkan disaat Ban KAPTEN timnas yg membebat lengannya.
 
Gw adalah satu dari mungkin ribuan orang melek bola yang menjadikan Bambang Pamungkas panutan tidak saja di dalam tapi juga di luar lapangan, dan konyolnya ada orang yang “benci” pada sosok pemain yg hingga kini adalah pemegang rekor caps dan gol terbanyak di timnas Indonesia.
 
Maaf bukan gw terjebak fanatisme buta, tapi gw belom bisa menemukan alasan yang tepat membuat mereka membenci Bepe, sebagai contoh, bepe lamban? kenapa itu tak dijadikan alasan 5-7 tahun lalu?
Bepe tidak produktif? dia adalah 1 dari 2 pemain lokal ( bersama boas, tanpa menghitung el loco yang naturalisasi ) yang selalu konsisten berada di daftar top skor liga tiap musimnya.
 
Jadi, beri alasan yang tepat dan jangan asal bilang benci dan mengolok olok kapten timnas tanpa sebab yg jelas, sebelum mencibir bepe liat apa yang sudah idola lo atau diri lo lakukan untuk sepakbola negeri ini?
 
Selalu gw bilang, membicarakan seorang Bambang Pamungkas tidak akan cukup dengan media sebuah buku yang terbatas halaman, Bepe adalah cerita trailer yang akan terus berseri dan kita akan terus di buat menebak apa cerita selanjutnya.
 
Semakin kita keras berusaha menebak maka makin sulit menemukan jawabannya karena yang tahu apa isi dari cerita selanjutnya adalah sang khalik sebagai penulis skenario dan Bambang Pamungkas sendiri sebagai tokohnya.
 
Selama Bepe masih berperan dan berkenan memberikan sumbangsihnya pada bola negeri ini (yang semakin tidak jelas juntrunganya paling tidak melihat kondisi saat ini), alangkah baiknya yg kita berikan adalah support, dukungan dan motivasi bukan malah cacian, makian atau olok-olok konyol yang tidak ada gunanya. (Repez-JO)
 
GUA ANGKAT RESPEK TINGGI BUAT IDOLA GUA BAMBANG PAMUNGKAS…
JUGA BUAT LO YG GAK MENYUKAI BELIAU TAPI MENUNJUKAN SIKAP ELEGAN SEBAGAI SEORANG MAKHLUK SOSIAL YANG D KARUNIAI RASA SALING MENGHORMATI.
 
 
MAJU TERUS KAPTEN…….
BAMBANG PAMUNGKAS20
 
*tulisan ini berseri terus pantau Jak Online untuk mendapatkan rangkaian cerita selanjutnya.
READ MORE

Bermainlah Dengan Hati Dan Kebanggaan

Posted by Master Community On 0 komentar
.
Persija JakartaPersija – Hati tak bisa dibeli, hati memilih sendiri tanpa ada yang mempengaruhi. Dengan hati, kita bisa memilih jalan hidup kita sendiri tanpa ada intervensi. Dengan hati, kita akan selalu bahagia dan selalu tersenyum menjalani aktivitas sehari-hari. Tak ada yang bisa merubah pilihan yang berasal dari hati kecuali Tuhan, dan tentunya kita sendiri.  Dengan hati kita bisa membenci dan menyukai. Ya, itulah hati. Mengatur hidup kita tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti.
 
Di sepakbola, para penonton pun kurang terlalu bersemangat jika di suatu pertandingan sepakbola yang mereka tonton bukanlah tim yang mereka sukai yang bermain. Ya, mereka suka karena hati mereka memilih tim yang mereka sukai atau mereka dukung  tersebut. Apa yang mereka suka? Kreativitas kelompok supporter  atau pendukung klub tersebut? Salah satu pemain dari klub tersebut? Atau permainan dari klub tersebut yang bagus atau menghibur? Lantas bagaimana jika salah satu pemain yang mereka suka di klub tersebut pergi atau pindah klub? Apakah mereka akan terus mendukung klub tersebut? Dan bagaimana jika permainan tim tersebut  menjadi buruk dan kurang menghibur? Apakah mereka masih akan terus mendukung klub tersebut? Atau….. Ahhhh….. entahlah. Itu urusan hati mereka masing-masing.
 
Tidak mungkin para pendukung Persija rela jauh-jauh menyeberangi laut dan melewati berbagai daerah untuk mendukung tim kesayangannya  bertanding jika bukan karena rasa cinta dan kebanggaan mereka pada tim tersebut. Dan mana mungkin seorang pendukung persija rela meninggalkan aktivitas mereka sehari-hari yang lebih penting, hanya untuk melihat 22 pemain di lapangan hijau yang saling memperebutkan bola selama 90 menit. Semua itu mereka lakukan karena perasaan cinta dan kebanggaan mereka melihat dan mendukung tim kesayangannya, Persija Jakarta bermain. Darimana perasaan tersebut berasal? Tepat! Perasaan itu datang dari hati.
 
Bermain dengan hati semestinya adalah salah satu elemen yang harus dimiliki seorang pesepakbola. Dengan bermain sepenuh hati, seorang pemain  sepakbola akan bermain dengan  kerja  keras dan semangat yang tak pernah padam. 90 menit pertandingan mungkin bukanlah masalah bagi mereka yang bermain dengan sepenuh hati. Bermain dengan hati juga membuat mereka seharusnya berpikir bahwa bukanlah bermain semaksimal mungkin untuk tim, tetapi bermain  sebaik mungkin untuk tim. 
 
Bermainlah dengan sepenuh hati, anggaplah semua elemen di dalam satu kesatuan persija adalah keluarga. Keluarga akan saling mendukung satu sama lain. Ingatlah bahwa jika kalian bermain, ribuan do’a dari para pendukung persija yang juga bagian dari keluarga kalian, bergema di udara mengiringi permainan kalian. Bermainlah dengan kebanggan kalian menggunakan kostum orange berlogo monas, dengan satu bintang diatasnya. Kita merasakan kekalahan sebagai keluarga, merasakan kemenangan pun juga sebagai keluarga. Jadi marilah kita bersama-sama berjuang sebagai keluarga. dan kalian sebelas macan yang bertarung di lapangan ; PLAY WITH YOUR PRIDE, PLAY WITH YOUR HEART !!! (@ICALICHIE- JO)
 
Satu Jakarta Satu !!!
READ MORE

Fabiano Absen menghadapi Persipura

Posted by Master Community On 0 komentar
.Persija harus kehilangan Fabiano salah satu palang pintu tangguh dibarisan pertahanan Persija saat laga selanjutnya menghadapi Persipura 7/2, stadion Mandala Krida, karena akumulasi kartu.
 
Bung Ferry “Selain sudah terkena akumulasi kartu dan tidak bisa dimainkan, Fabiano meminta izin untuk pulang lebih awal ke Jakarta, untuk menengok anaknya yang sakit,”
 
Fahreza Agamal yang partai sebelumnya tidak termasuk skuad yang dibawa, sudah bergabung dalam latihan pagi ini, di stadion Mandala Krida Yogyakarta, ungkap Bung Ferry Sekretaris team Persija.
 
Pertandingan Persija vs Persipura akan tetap dilangsungkan di stadion Mandala, Krida Yogyakarta, tegas Bung Ferry menanggapi spekulasi yang berkembang pertandingan akan dipindah pasca pertandingan melawan Persiwa. (Zani-JO)
READ MORE

Stadion Ikada

Posted by Master Community On 0 komentar
..
http://id.wikipedia.org/wiki/Lapangan_Ikada
Jauh sebelum ada Senayan, Lapangan Ikada yang juga disebut Lapangan Gambir merupakan pusat kegiatan olah raga. Nama lapangan Ikada sendiri baru dikenal pada masa pendudukan Jepang, ketika negara itu menduduki Jakarta pada 1942, dan kemudian mengganti sejumlah nama tempat, lapangan dan jalan-jalan. Dinamai Ikada, karena di lapangan ini para atlet Ibu Kota setiap hari mengadakan latihan-latihan. Tapi yang memanfaatkan lapangan itu sebenarnya bukan hanya para atlet saja. Karena di sekitar lapangan yang luas itu terdapat pula belasan lapangan sepakbola, termasuk lapangan hockey. Di lapangan ini terdapat pula tempat pacu kuda. Termasuk lapangan pacu kuda untuk satuan militer dari kavaleri. Di lapangan inilah sejumlah klub sepakbola pada tahun 1940-an dan 50-an memiliki lapangan sendiri. Seperti lapangan Hercules, VIOS dan BVC, yang merupakan kesebelasan papan atas pada kompetisi BVO (Batavia Vootball Organization) dan setelah kemerdekaan digantikan oleh Persija.
Sebelum adanya Senayan (1962), Ikada digunakan sebagai tempat latihan dan pertandingan PSSI. Di tempat inilah sebelum lapangan itu dibongkar diselenggarakan pertandingan-pertandingan sepak bola bergengsi. Termasuk mendatangkan berbagai kesebelasan luar negeri. Nama-nama pemain sepakbola seperti Ramang, Djamiat Dalhar, Tanoto (Tan Liong Houw), Kiat Sek, Van der Vin, bahkan kemudian generasi almarhum Sutjipto Suntoro dan masih puluhan nama lagi selalu bermain di sini. Iswadi Idris dan Bop Hippy yang kemudian menjadi pemain nasional dibentuk dari tempat ini melalui kompetisi-kompetisi gawang (di bawah 14 tahun).
Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-II tahun 1952 di sebelah selatan lapangan ini dibangun sebuah stadion, yang juga diberi nama Stadion Ikada. Proses pembangunan itu singkat, hanya 93 hari. Namun nama itu cukup membekas sehingga nama Stadion Ikada makin dikenal.
Di lapangan inilah pada 13 September 1945 di bawah ancaman moncong meriam dan bayonet Jepang, rakyat Ibu Kota dan sekitarnya mengadakan rapat raksasa untuk lebih mempersatukan rakyat dalam membela kemerdekaan. Tapi karena menghadapi ancaman Jepang dan mencegah rakyat menjadi korban, Bung Karno hanya berpidato sangat pendek. Takut akan terjadi ‘banjir darah’, Presiden Soekarno menganjurkan agar massa rakyat segera bubar dan pulang ke tempat kediamannya masing-masing.
Almarhum Adam Malik yang hadir dalam rapat raksasa itu dalam bukunya Riwayat Proklamasi Kemerdekaan 1945 menyebutkan bahwa rapat raksasa yang diselenggarakan kelompok Menteng 31 itu tanpa persiapan sama sekali. Menurut mantan Wapres, keadaan itu berbeda ketika Jepang mempergunakan Lapangan Ikada untuk menggembleng semangat ala tiga A (Aku Anti Amerika) yang persiapannya dilakukan selama berhari-hari.
Tentu saja generasi sekarang tidak lagi mengenal lapangan Ikada. Karena tiap orang menyebutnya Lapangan Monas. Lapangan terluas di dunia ini dibangun oleh gubernur jenderal Herman William Daendels (1818). Mula-mula namanya Champ de Mars karena berbarengan dengan kekuasaan Napoleon Bonaparte yang menaklukkan Belanda. Tapi ketika Belanda berhasil merebut kembali negerinya dari Prancis, namanya jadi Koningsplein (Lapangan Raja). Sementara rakyat lebih senang menyebut Lapangan Gambir, yang namanya kini diabadikan untuk nama stasion kereta api.(GRY-JO)
REPUBLIKA – Sabtu, 22 April 2006
READ MORE

Van Der Vin, Kiper Indonesia dan Persija era 1950an-1960an

Posted by Master Community On 0 komentar
Dalam kitab Peringatan Oentoek Hindia Beland (1923) yang ditulis JMW Demont disebutkan, di Hindia (Indonesia) sudah ada semacam permainan voetbal dengan bola yang dibuat dari rotan, buah jeruk, atau buah kelapa yang dikeringkan. Indonesia sebelum Perang Dunia II (1942-1945) sudah memiliki banyak pemain besar. Sebagai kontingen Hindia Belanda pada 1938, Indonesia menjadi peserta World Cup di Prancis. Pemain Belanda yang terkenal antara lain Denkelaar, Van der Poel, Van Leeuwant, dan bekas kiper Belanda, Backhuys. pemain pribumi yang terkenal adalah Mad Dongker, Abidin, Sumo, dan Tan Hwa Kiat (ayah pemain nasional Tan Liong Houw).
 Orang-orang Belanda di Indonesia pada 1918 membentuk Nederlandsch Indie Voetbal Bond (NIVB) yang membawahi bond-bond yang pemainnya didominasi warga Belanda. Anggota-anggotanya dilarang bermain dengan perkumpulan-perkumpulan sepak bola inlander. Perkataan inlander yang merupakan penghinaan, sangat menyakitkan bangsa Indonesia. Maka pada 1928 berdiri Voetbalbond Indonesish Jakatra (VIJ). VIJ yang pada 1950 menjadi Persija, memiliki lapangan sepak bola di Petojo VIJ, belakang bioskop Roxy, Jakarta Pusat. Pahlawan Nasional M Husni Thamrin turun berperan dan banyak mengeluarkan uang untuk membangun lapangan ini. VIJ bersama dengan sejumlah perkumpulan lainnya pada April 1930 memsponsori berdirinya PSSI guna menyaingi NIVB.
Pada 1932 di lapangan VIJ diselenggarakan pertandingan antara PSSI – VIJ. Bung Karno yang baru dibebaskan dari penjara Sukamiskin, Bandung, diminta melakukan tendangan kehormatan. Setelah kemerdekaan, sejumlah kesebelasan Belanda masih ada. Tapi tidak lagi bersikap diskrimatif dan sudah mengikutsertakan pemain Indonesia. Seperti Hercules yang memiliki lapangan di Deca Park (kini Monas depan MBAD). VIOS di Menteng (kini lapangan Persija), BVC di depan Balaikota, dan Oliveo. Kala itu menonjol kesebelasan yang didirikan warga Tionghoa, yaitu UMS yang memiliki lapangan di Petaksinkian (Kota) dan Chung Hwa di Tamansari, Jakarta Barat.
Yang lainnya adalah Maluku, BBSA, Maesa, Bintang Timur, dan Setia. Seperti liga Eropa, tiap kesebelasan memiliki divisi utama, divisi I, II, dan III. Pada akhir pekan (Jumat hingga Ahad) warga Ibukota dengan bergairah menyaksikan pertandingan-pertandingan yang jadwalnya padat. Di antara pemain Indo Belanda terkenal kala itu adalah Van der Vin, kiper UMS. Boelaard van Tuyl, libero VIOS yang berbadan tinggi besar seperti Maldini, pemain nasional Italia dari AC Milan. Van der Berg, bek tangguh dari BBSA sekalipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi berbadan tegap. Pesch, kanan luar Hercules yang larinya kencang bagai kijang.
Ia sering merobek-robek pertahanan lawan dengan umpan-umpan akurat. Yang paling menonjol antara mereka Van der Vin. Kiper berbadan tinggi, tapi perawakannya tidak terlalu besar ini, cukup lincah gerakannya dalam menangkap bola-bola tinggi. Hanya sedikit kelemahannya menghadapi bola-bola bawah. Menghadapi lawan-lawan luar negeri, yang kala itu sering bertandang ke Indonesia, Van der Vin membuat para penyerang kenamaan kala itu menjadi frustasi karena gawangnya sulit ditembus. Dalam suatu pertandingan melawan suatu kesebelasan Hongaria di Ikada, ia menahan penalti pemain legendaris Puskav.
Pemain Hongaria yang saat negaranya diinvasi Uni Soviet pada 1960-an pindah ke Real Madrid, Spanyol, ketika mengeksekusi penalti berupaya menipu Van der Vin. Bola yang seolah-olah ditujukan ke arah kanan, tapi tiba-tiba dibelokkan ke arah kiri gawang, dapat ditangkap Van der Vin. Puluhan ribu penonton bertepuk tangan sambil berdiri, dan Van der Vin berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Raymond Kopa, dari Prancis kala itu juga pernah bertanding di Indonesia dan mengalami kesulitan menembus gawang Van der Vin. Kiper tampan ini berangkat ke stadion selalu menggunakan sepeda motor Harley Davidson: silih berganti memboncengkan berbagai gadis Indo. Sejumlah penyerang PSSI yang disegani kala itu adalah Djamiat Dalhar, Liong Houw, Kiat Sek (Persija), Ramang (PSM), Witarsa (Persib), Ramli dan Ramlan (PSMS).
Menjelang 1960-an tampil Sutjipto Suntoro (Persija) dan Iswadi Idris (Persija), Yacob Sihasale dan Abdulkadir (Persebaya), dan Ronny Patinasarani (PSM). Sutjipto yang namanya harum di Asia, bersama dengan Yacob pernah terpilih dalam kesebelasan All Asian Stars. Sampai awal 1970-an Indonesia masih sangat disegani di Asia. Pernah mengalahkan RR Cina 2-0, menggasak Thailand 4 – 0, menghantam Korea 3 – 0 dan PSSI yunior menekuk Iran 3 – 0.
Jepang dan Arab Saudi yang kini jadi peserta World Cup belum ada apa-apanya. Wartawan Antara Sugiarto Sriwibowo, yang meliput Olimpiade Dunia di Jepang (1964) menuturkan, ”Orang Jepang bila menonton bola sangat geli. Apalagi bila melihat para pemain menyundul bola. Mereka takut kalau kepalanya nanti pecah.” (GRY-JO)
REPUBLIKA – Minggu, 21 April 2002
READ MORE

Dan, Batavia Pun Berpesta di Tahun 1938

Posted by Master Community On 0 komentar
Saya akhirnya menemukan fakta menarik, dimana dalam beberapa sumber menyebutkan kompetisi PSSI pada tahun 1938 jatuh ke tangan Solo (Persis) tetapi dalam susunan Wikipedia juara ada tahun itu direbut oleh VIJ (Persija). Jelas kesimpangsiuran ini menimbulkan kebingungan, dan saya sedikit bertanya-tanya ada apa ditahun 1938.
Fakta menarik tersebut saya dapatkan dari koran yang bisa dibilang sudah sangat tua dan rapuh, sehingga untuk membalikan halamannya saja agak sedikit hati-hati kalo tidak mau robek secara ber-class, ya Koran itu bernama Sin Po, Koran tua dengan pasar pembaca tionghoa termasuk Koran yang sangat berpengaruh di Ibukota dan Surabaya (di Surabaya hadir dengan nama Sin Tit Po). Awalnya saya mengira Koran ini pro terhadap Belanda, terbukti dengan berita yang selalu berat ke VBO (Voetballbond Batvia Omstraken). Dimana kompetisi VBO selalu menjadi berita di rubrik sport, tetapi diam-diam saya menemukan berita tentang VIJ, yah walaupun kecil , itu sudah membuat saya senang.
Selain VIJ, adapula berita tentang timnas kita yang menjadi Negara asia pertama yang berlagai di Piala Dunia 1938 lengkap beserta foto. Hindia Belanda saat itu diwakili oleh orang-orang yang bernaung di bawah bendera NIVU. Ini yang membuat PSSI semakin membenci NIVU lantaran NIVU menipu PSSI. Ya tentang pengiriman tim ke piala dunia memang seharusnya ditentukan dengan pertandingan antara PSSI melawan NIVU yang pemenangnya berhak mewakili Hindia Belanda ke Piala Dunia, NIVU nampkanya mencium gelagat pembangkangan dari PSSI, takutnya di Piala Dunia nanti, PSSI mengibarkan panji semangat nasionalisme dalam diri Indonesia bukan Hindia Belanda yang menjadi Negara satelit dan jajahan kerajaan Belanda.
Oke balik lagi yuk ke VIJ sebagai cikal bakal Persija nantinya. Yap, sumber yang saya temukan sangat fix, bila dulu saya mendapat sumber dari tangan kedua, maka hari ini saya mendapatkan sumber dengan mata kepala saya sendiri. Awalnya saya hampir menduga bahwa memang benar bukan VIJ juaranya, dimana semifinal VIJ sudah bertemu Surabaya (Persibaja) terlebih dahulu. Ini sangat tidak sesuai dengan sumber yang banyak menyebutkan VIJ juara setelah mengalahkan SIVB dengaan skor 3-1 di final, nah itu memang terjadi tetapi bukan di kompetisi PSSI tahun 1938, itu terjadi di kompetisi NIVU, VBO berhasil mengalahkan SIVB dengan skor 3-1. Dari situ saya mencoba terus mencari artikel di Koran itu tentang final Kampeonturnoi PSSI dan hasilnya..eng..ing..eng.. yaaa VIJ berhasil mengalahkan Solo (Persis) dengan skor 3-1.
Artikel yang saya liat sendiri adalah fix dan berhasil mematahkan kegalauan saya tentang kompetisi tahun 1938 ini, bila kemarin-kemarin saya sempat berfikir Persija hanya juara 8 kali kompetisi PSSI maka sekarang saya sudah nyaman dengan 9 kali juara kompetisi tertinggi di Indonesia ini, plus satu kali juara Liga Indonesia tentunya, He..he..
Itu memang masa lalu, masa lalu yang membuat saya tertarik. Faktor Persija yang membuat saya ingin mengenal tim ini secara lebih dekat. Bila para hooligan, ultras bahkan para fans biasa saja bisa mengenal sejarah klub mereka, saya juga ingin mengenal sejarah panjang sebuah perkumpulan yang bahkan lebih besar dari sekedar klub, Tim Persija.
Besar karena Persija mengayomi beberapa klub yang ada di Jakarta, besar pula karena banyak pemain hebat dan gelar-gelar fantastis yang lahir dari tim ini. Apakah kita mengenal semua-semua dari mereka? I don’t think so..
Bila banyak dari orang lain yang memandang sinis dengan sejarah ataupun masa lalu, wajar saja. Karena kelemahan bangsa ini adalah penghilangan sejarah untuk membuat sejarah baru yang mungkin beberapa tahun kedepan akan hilang dan digantikan sejarah baru. 1938 adalah bukti, hilangnya sejarah atau kesimpangsiuran sejarah membuat saya sebagai pecinta Persija merasakan kegalauan yang luar biasa. Beruntung masih ada arsip tersimpan rapi di lantai 7 di gedung perpustakaan yang sangat sepi pengunjung, dari lantai ini saya merasa kembali terbang ke tahun-tahun itu, ikut merasakan sukses VIJ (Persija) yang mungkin orang-orang pada tahun itu tidak memikirkan begitu susahnya menemukan kembai arsip, dokumantasi dan data jerih payah mereka dalam menghadirkan gelar ke tanah Ibukota. ( GRY-JO )
V.I.J (PERSIJA) 3-1 Solo (Persis), di Sriwedari Solo
Gol VIJ : Soetjipto, Iskandar, Soetarno
Susunan Pemain V.I.J tahun 1938 :
Roeljaman; Moh. Saridi, A. Gani; Djaimin, Moestari, Soemarno; Soetarno, Soetjipto, Soetedjo; Iskandar, Oentoeng.
*sumber : Koran Sin Po 10 Juni 1938
READ MORE

Memori 1973, Juara Untuk Warga Kota

Posted by Master Community On 0 komentar
Saya mencoba menulis tentang Persija yang juara tahun 1973 yang pastinya saya dapatkan dari berbagai sumber seperti Koran-koran lama dan juga artikel majalah tempo. Saat itu yang kita ketahui Persija berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Persebaya dengan skor 1-0. Sebelum jauh bahas Final, kita lihat dulu perjalanan Persija menuju final kompetisi PSSI ini.

Kompetisi Nasional PSSI tahun 1973 dimulai pada hari minggu, 25 November 1973, saat itu Persija memulai kompetisi dengan mengalahkan PSL Langsat denga skor cukup telak 5-2 di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Memang pada gelaran kali ini semuanya diadakan di Stadion GBK Jakarta. Kontestan pada tahun bisa dibilang masih seperti biasanya, rival-rival Persija masih tetap ancaman buat tim ibukota yang mencoba merebut gelar juara kembali setelah terakhir tahun 1964. Persib Bandung, PSMS Medan, PSM Ujungpandang, Persebaya Surabaya, Persipura Jayapura serta dua debutan di 8 besar kompetisi PSSI PSBI Blitas dan PSL Langkat menghiasi Kejuaraan Nasional 1973 ini.
Jelas dengan komposisi peserta seperti ini, media massa baik ibukota dan nasional bakal meramalkan persaingan yang sengit dan keras untuk merebut gelar juara PSSI tahun 1973 ini. Kita berbicara tentang Persija, skill tinggi pemain-pemain dari ibukota menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya, nama-nama seperti Anjas Asmara, Sofyan Hadi, Andi Lala, Sutan Harhara, Risdianto, Iswadi Idris dan kiper Yudo Hadiyanto serta pelatih yang juga pernah membawa Persija menjuarai Kompetisi PSSI 1964, Sinyo Aliandoe membuat banyak pihak percaya inilah tahunnya Jakarta.
Nah, kembali ke perjalanan Persija, setelah mengalahkan PSL Langsat dengan skor telak, Persija bertemu rival abadinya, Persib Bandung. Kali Persib dibuat bertekuk lutut oleh anak-anak Ibukota, ya Persija berhasil menaklukan Persib setelah pada babak pertama sangat menguasai jalannya pertandingan, dibombardir secara terus menerus, pemain Persib terkena handsball di dalam kotak pinalti, kesempatan tidak disia-siakan oleh Anjas Asmara yang menempatkan bola ke sudut kiri kiper Persib.
Babak kedua berlangsung dan tensi makin memanas tetapi Persija tetap menguasai jalannya pertandingan. Namun pada babak ini, sesekali Persib melancarkan serangan yang membahayakan gawang Persija yang dikawal oleh Yudo Hadiyanto.
Hampir frustasi, Persib akhirnya bermain keras menjurus kasar tetapi sekali lagi pemain-pemain Persija tidak terpancing dan berhasil menghasilkan gol lagi pada menit 71 lewat kaki Sofyan Hadi. Dan Persija pun menang 2-0.
Susunan pemain Persija yang mengalahkan Persib :
Persija : Yudo Hadiyanto, Sutan Harhara, I’im Ibrahim, Oyong Liza, Widodo, Sofyan Hadi, Iswadi Idris, Arwiyanto, Risdianto, Anjas Asmara dan Sumitra.
Pelatih ; Sinyo Aliandu
Setelah itu Persija menghadapi PSM Ujungpandang, dan lagi-lagi Persija mampu menang dengan skor besar 5-1. Keesokan harinya Persija harus kembali bertanding kali ini melawan “kuda hitam” PSBI Blitar, lagi-lagi Persija berhasil dengan skor yang mencolok 5-0, Persija yang turun dengan warna kebesarannya Merah, berhasil melumat PSBI dengan sangat meyakinkan. Bahkan salah satu gol Persija yang dicetak oleh Risdianto dihasilakan dengan cara spektakuler dengan cara salto, tentu saat itu cara mencetak gol seperti Risdianto bisa dibilang gol dengan teknik tinggi.
Selanjutnya Persija menghadapi salah satu musuh bebuyutannya, PSMS Medan. Pertandingan melawan Medan disaksikan oleh 100.000 penonton di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Persija tertinggal 0-2 terlebih dahulu setelah Parlin Siagian dan Zulkarnaen berhasil membobol gawang Yudo Hadiyanto. Persija memang sangat kewalahan menghadapi permainan-permainan anak-anak Medan, tetapi bukan Persija bila tidak ngotot untuk menyamakan kedudukan. Pada menit 81 Risdianto berhasil menggetarkan gawang Ronny Pasla dan member harapan untuk Persija, dan momentum ini tidak disia-siakan Persija, bek kiri Persija I’im Ibrahim berhasil menceploskan bola ke gawang PSMS sesaat menjelang selesainya pertandingan. Pertandingan ber-class ini pun akhirnya berkesudahan dengan skor 2-2.
Susunan pemain Persija saat menghadapi PSMS :
Persija : Yudo Hadiyanto, Sutan Harhara, I’im Ibrahim, Oyong Liza, Widodo, Sofyan Hadi, Iswadi Idris, Arwiyanto, Anjas Asmara/Salmon Nasution, Risdianto dan Andi Lala/Suhanta.
Pelatih : Sinyo Aliandu
Pertadingan berikutanya Persija bertemu dengan Persipura. Pada pertandingan ini Persija hanya mampu menang dengan skor tipis 1-0 lewat gol pinalti Anjas Asmara, pertandingan Persija kali ini sangat berbeda, Persija seakan mati kutu dengan pertahanan rapat Persipura. Beruntung pemain Persipura terkena handball didalam kotak pinalti dan Anjas Asmara lagi-lagi dengan tenang menceploskan bola ke gawang Jimmy Pieters, penjaga gawang Persipura.
Pertandingan terakhir Persija pada Kompetisi PSSI Tahun 1973 adalah partai “Final” bagi Persija dan Persebaya, pertandingan ini sangat menentukan siapa juara PSSI tahun 1973 ini. Pertadingan “Final” yang mempertemukan rivalitas antara Jakarta dan Surabaya, berlangsung sangatlah keras untuk ukuran olahraga sepakbola. Terjadi tawuran antara pemain Persija dengan para pemain Persebaya, tawuran massal ini menurut Koran Merdeka tahun 1973 dimulai belum lama saat babak pertama dimulai.
Kejadian yang diakibatkan karena salah satu pemain Persija, yaitu Sutan Harhara memotong kaki dari pemain Persebaya, yaitu Abdul Kadir, memancing amarah pemain-pemain Persebaya. Tidak lama kemudian pecahlah tawuran missal di lapangan, dimana Oyong Liza dikeroyong beberapa pemain Persebaya, turut serta pula bintang Persija kala itu Sutan Harhara dan Anjas Asmar terlibat didalamnya. Begitu pula dengan Rusdi Bahalwan yang saat itu masih menjadi pemain Persebaya dikeroyok oleh pemain-pemain Persija. Aparat keamanan pun turun kelapangan untuk meredakan situasi yang bisa dibilang total chaos.
Kericuhan ini mengakibatkan pertandingan dihentikan selama 10 menit setelah kedua belah pihak sepakat melupakan kejadian adu jotos itu. Perlu diketahui juga, penonton saat itu sangat membludak. Hampir tidak ada bangku kosong di dalam stadion bahkan banyak pula yang berdiri dan juga tidak masuk ke dalam stadion. Persija tentunya turun dengan pemain-pemain terbaiknya, seperti Anjas Asmara, Iswadi Idris, Oyong Liza, Sofyan Hadi, Sutan Harhara dan kiper Yudo Hadiyanto.
Di Persebaya juga diiisi pemain-pemain hebat, seperti Rusdi Bahalwan, Abdul Kadir, Waskito, dkk. Maka tak heran bila pertandingan ini begitu dinanti-nanti terlebih lagi oleh warga kota yang mengharapkan Persija kembali juara setelah terakhir kali mereka meraih juara pada tahun 1964. Tentunya gelar juara sangat dinanti oleh Jakarta, berisi pemain-pemain dengan teknik dan skill tinggi, Persija sangatlah diunggulkan untuk merebut juara.
Nah, kembali ke pertandingan final, setelah sempat diberhentikan, Persebaya sangat menguasai jalannya pertandingan. Kiper Persebaya Harry Tjong bahkan terlihat sangat tidak bekerja keras, bahkan hanya seperti jogging saja, dilain sisi kiper Yudi Hadiyanto jatuh bangun menghalau serangan-serangan dari Persebaya.
Pada babak kedua pun sama saja, Persebaya tetap menguasa jalannya pertandingan. Persija dengan sabar meladeni serangan-serangan yang menggebu-gebu dari para pemain Persebaya. Para penonton percaya bahwa gol kemenangan Persebaya hanya tinggal menunggu waktu saja. Tetapi bukan Persija namanya jik harus pasrah dengan keadaan. Yap, berawal dengan tendanga bebas di menit 81, Risdianto memberi umpan manis kepada penyerang Persija, dan saat itulah muncul Andi Lala yang menceploskan bola ke gawang Harry Tjong.
Tentu gol ini disambut gemuruh penonton di Stadion, ya warga kota tak menyangka dengan gol tersebut, setelah berjam-jam Persija dikurung oleh permainan Persebaya, akhirnya Persija berhasil menceploskan gol ke gawang Persebaya. Andi Lala menjadi pahlawan Persija.
Permainan berlanjut dan kali ini giliran kiper Yudo Hadiyanto yang bersantai-santai dan sesekali memainkan bola dengan kakinya. Peluit babak kedua pun ditiup, tanda pertadingan telah selesai dan Persija keluar sebagai juaranya.
Warga kota bergembira, pemain pun meluapkan kegembiraannya dengan berkeliling stadion sambil mengibarkan bendera “JAYA RAYA” simbol Jakarta dan Persija. Dengan kostum mereka berwarna merah, mereka berbaur dengan warga kota yang sebagian ikut turun ke lapangan menikmati gelar juara bersama para pemain-pemain Persija.
Kenangan indah di tahun 1973, dan saat itu pun majalah Tempo memberikan judul Hadiah Untuk Warga Kota sebagai headline berita mereka dalam menyambut gelar juara Persija.
Terima Kasih, Pahlawan !
*sumber-sumber didapat dari Koran Harian Merdeka dan Kompas tahun 1973 serta majalah Tempo 1973 yang tentunya diketik lagi dengan tulisan dari saya sendiri.
READ MORE

Berdirinya Perkumpulan PERSIJA

Posted by Master Community On 0 komentar
Persija berdiri sebulan setelah lahirnya Sumpah Pemuda, tanggal 28 November 1928. Ketika itu perkumpulan     pemuda Jakarta sepakat untuk membentuk Voetballbond Indonesische Jacatra (VIJ), kenapa pakai Jacatra? karena rasa nasionalisme pemuda Jakarta tumbuh begitu tinggi, jadi mereka meninggalkan kata-kata Batavia sebagai nama perkumpulan Sepakbola. Lagipula VIJ lahir juga sebagai perlawanan Voetballbond Batavia Omstraken (VBO), perkumpulan sepakbola Batavia dari kalangan Belanda.
VIJ adalah perkumpulan sepakbola yang murni diisi oleh orang-orang Pribumi. Rasa nasionalisme para pemuda ini tidak terbendung lagi, sehingga VIJ pun diberi identitas ‘Merah dan Putih’ sebagai wujud Indonesia secara kecil. VIJ juga tercatat sebagai perkumpulan sepakbola yang ikut membidani lahirnya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Mr. Soekardi sebagai perwakilan VIJ dan Iskandar Brata sebagai Ketua Umum pertama VIJ.
 Kompetisi PSSI pertama tahun 1931, VIJ berhasil keluar sebagai juara setelah berhasil mengalahkan VVB (Solo) dan PSIM (Jogjakarta). Setahun berselang, VIJ gagal menjadi juara. Baru pada tahun 1933, 1934 dan 1938 VIJ keluar sebagai juara.
 Pada era kependudukan Jepang, sepakbola Indonesia vakum alias tidak ada kegiatan. Kompetisi baru dimulai kembali pada tahun 1951. VIJ pada tahun 1950 merubah namanya menjadi nama Indonesia, yaitu Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta atau yang kita kenal dengan PERSIJA. Pada tahun ini pula beberapa klub VBO yang banyak berisikan pemuda pribumi mulai bergabung ke Perkumpulan Persija, yang pertama bergabung adalah Bangka Belitong Sport Association alias BBSA, lalu diikuti Cung Hwa (PS Tunas Jaya), UMS, Maesa, Hercules dll.
 Dengan limpahan pemain-pemain dari VBO, Persija tidak kesulitan menemukan pemain-pemain hebat, rata-rata pemain Persija diambil dari UMS dan Cung Hwa yang pada kompetisi VBO sangat menguasai Kompetisi VBO tersebut.
 Beberapa pemain top Persija saat itu seperti Van der Vin, Hong Sing, Him Tjiang, Kwee Tek Liong dan Djamiaat Dalhar berasal dari UMS, lalu Tan Liong Houw dari Cung Hwa (Tunas Jaya) atau Van der Berg dari BBSA berhasil mencuri perhatian masyarakat Jakarta yang saat itu deman sepakbola. Persija akhirnya keluar sebagai juara pada tahun 1954 setelah mengalahkan PSMS dengan skor 2-1.
                                                   
Sepuluh tahun berselang Persija kembali merajai Kompetisi PSSI 1964. Juara Tahun ini sungguh istimewa, karena saat itu Persija tidak terkalahkan dengan pemain-pemain muda yang diambil dari Kompetisi Persija. Tangan dingin pelatih legendaris Persija, drg Endang Witarsa berhasil membawa anak-anak muda ini berpesta di Senayan, setelah pada pertandingan penetuan berhasil menghancurkan Persebaya Surabaya.
Dari tangan dingin drg. Endang Witarsa pula lahir generasi hebat Persija seperti Soetjipto Soentoro, Yudo Hadiyanto, Fam Tek Fong, Kiat Seek, Dominggus, Supardi, Didik Kasmara, Surya Lesmana dll. Tentu penemuan Soetjipto Soentoro, adalah paling fenomenal. Ditemukan di pinggiran Gandaria, Kebayoran Lama, Jakarta, pemain ini menjadi maskot Persija saat itu. Gareng adalah sapaan akrab Soetjipto, bahkan Gareng pun memulai debut bersama Persija pada usia 16 Tahun.
Usai gagal mempertahankan gelar juara pada Kompetisi tahun 1965, yang jatuh ke Persib, Persija baru bisa meraih kembali gelar juara sembilan tahun kemudian di tahun 1973. Era 70an bisa dibilang adalah eranya Persija, setelah berhasil menguasai Kompetisi Piala Suratin U-18, pemain-pemain jebolannya kemudian berhasil mempersembahkan gelar juara untuk Persija senior.
Era ini pula pemain-pemain Persija berteknik sepakbola modern. Risdianto, Iswadi Idris, Anjas Asmara, Sutan Harharah, I’im Ibrahim, Oyong Liza, Sumirta, Yudo Hadiyanto dkk. bahkan bukan saja andalan di Persija tapi juga di Timnas Indonesia kala itu. Di Era ini penonton sepakbola Indonesia selalu disuguhkan permainan berteknik tinggi dari Persija. Maka tak heran Persija berhasil meraih gelar juara pada tahun 1973, 1975 dan 1979. Persija hanya gagal juara pada era ini pada tahun 1971 dan 1977.
                                          
Setelah Era 70an, Persija mengalami reformasi pemain pada tahun era 80an. Dengan tidak menghilangkan ciri khasnya, yaitu permainan skill tinggi, tim yang identik dengan warna Merah ini sedikit menurun pada era ini. Setelah gelar juara tahun 1979, Persija dengan berani menurukan pemain-pemain mudanya termasuk salah satunya adala Reva Deddy Utama.
Persija bahkan hampir terdegradasi pada tahun 1985. Persija terselamatkan oleh gelaran 4 Kecil yang diadakan PSSI untuk menentukan siapa yang degradasi ke Divisi I PSSI dan siapa yang promosi ke Divisi Utama PSSI. Hampir degradasi membuat Ketua Umum Persija saat itu, ir Todung Barita Lumbanraja berniat membuat Sekolah Sepakbola Persija sebagai sarana pencarian bibit muda untuk Persija.
Setelah tahun 1985, Persija perlahan mulai bangkit dan kembali mengacak-acak arena Divisi Utama PSSI. Di Era ini-lah perseteruan baru dengan Persib Bandung meruncing sangat tajam. Persija yang saat itu banyak diisi pemain-pemain jebolan PSSI Timnas Garuda seperti Tony Tanamal, Patar Tambunan dan Agus Waluyo mulai mengusik dominasi Persib di era 80an. Harus diakui bahwa era 80an adalah eranya Persib, maka saat Persija yang mulai bangkit kembali, menjadi ancaman serius Persib.
Persija era ini memang tidak menghasilkan gelar juara, hanya runner-up pada tahun 1988 dan peringkat ke ketiga pada tahun 1990 tidak lantas membuang ciri khas Persija yang bermain teknik tinggi. Pelatih Sugih Hendarto adalah seorang maestro Persija era itu, kawan Wiel Coerver itu telah menjadikan Persija menjadi tim yang sangat atraktif dan menjadi tim yang sangat ditunggu-tunggu penikmat sepakbola Indonesia era itu, bahkan oleh para bobotoh.
Era 90an Persija sedikit terpuruk dengan ditandai ketidakmampuan Persija bertanding ke Cimahi, Bandung untuk menghadapi Persikab pada suatu lanjutan Liga Indonesia. Tapi kondisi ini tidak berlangsung lama, saat Gubernur DKI Jaya saat itu, Sutiyoso mulai memperhatikan Persija. Perlahan-lahan Bang Yos membangun era nya di Persija, mulai mendatangkan pemain-pemain eks Bandung Raya yang bubar sampai merubah warna kostum kebanggan Persija yang sudah bertahun-tahun menemani perjalanan Persija.
                                      
Jadilah Persija era Bang Yos ini berwarna Orange dan berhombase di Lebak Bulus dengan berbagi tempat dengan pemiliknya, Pelita Jaya. Persija era Bang Yos mulai kembali diperhitungkan kembali sebagai calon Juara. Setelah hampir menunggu duapuluh dua tahun lamanya, gelar tertinggi Sepakbola Indonesia kembali diraih Persija pada tahun 2001. Harmonisasi dari pengurus hingga, supporter The Jakmania menjadikan Persija tim yang solid sehingga gelar juara sebetulnya tinggal menunggu waktu.
Persija berhasil mengalahkan PSM Makassar 3-2 lewat gol Imran Nahumarury dan dua gol dari legenda hidup Persija saat ini, Bambang Pamungkas. Musim berikutnya Persija gagal mempertahankan gelar juaranya, dan sampai saat ini Persija belum lagi merebut gelar juara Liga Indonesia yang sekarang bernama Indonesia Super League (ISL). Persija era orange baru mengoleksi gelar juara tertinggi PSSI satu kali serta dua kali Piala Brunei Invitation pada tahun 2000 dan 2001.
Bahkan yang sangat miris saat semua identitas Persija berubah dari merah ke orange, Persija juga kehilangan Stadion Menteng yang digusur oleh “pembina”nya sendiri. Ini berbanding terbalik dengan M.H. Thamrin sebagai pembina Persija saat masih bernama VIJ, Bang Thamrin mati-matian mengupayakan VIJ atau Persija memiliki lapangan sendiri di daerah Petojo, dengan uang 2000 Gulden, Bang Thamrin membeli tanah untuk sarana latihan VIJ/Persija, memutar kompetisi VIJ dan terlebih penting adalah sarana bermain bagi orang-orang Jakarta.

Juara Kompetisi Tertinggi PSSI
(1) Tahun 1931
(2) Tahun 1933
(3) Tahun 1934
(4) Tahun 1938
(5) Tahun 1954
(6) Tahun 1964
(7) Tahun 1973
(8) Tahun 1975
(9) Tahun 1979
(10) Tahun 2001

Runner-Up
 (1) Tahun 1932
(2) Tahun 1952
(3) Tahun 1977
(4) Tahun 2004
READ MORE

Tanggung Jawab Anak Muda Jakarta bagi Kotanya

Posted by Master Community On 0 komentar
Tanggung jawab, mungkin itu alasan yang tepat bagi kita pemuda pemudi Indonesia, yang khususnya tinggal di Jakarta, untuk mencintai dan mendukung, minimal mengenal apa yang dimiliki oleh kota ini. Kita lahir di Jakarta,  memiliki kewarganegaraan Indonesia, besar dan tumbuh di ibu kota bangsa, sudah sepatutnya kita mensupport apa yang Jakarta punya. Karena, kalau bukan kita siapa lagi?

Salah satu contoh dari tanggung jawab dari kita generasi penerus Indonesia yang tinggal di Jakarta adalah, mencintai dan mendukung Persija. Minimal, kita mengetahui bahwa Persija itu adalah klub sepakbola yang berasal dari Jakarta.
Namun, sekarang-sekarang ini, semakin sedikit pemuda-pemudi yang bersedia mendukung Persija. Jangankan mendukung, berminat untuk mengetahui tentang keadaan Persija saja mereka sungkan. Banyak diantara mereka yang lebih tertarik menambah informasi tentang klub sepakbola yang lokasinya berada jauh dari Jakarta. Padahal, yang di depan mereka saat ini, adalah tim hebat yang memiliki sejarah dan prestasi yang juga hebat.
                Adalah Sheila dan Harry, dua orang kawan gue sesama alumni SMA Negeri 54 Jakarta, yang mencoba merealisasikan tanggung jawab mereka sebagai anak muda Jakarta untuk menunjukkan kepedulian mereka atas Persija.
Sheila bersama kawa-kawan sekelasnya yang merupakan angkatan 2009 di SMA Negeri 54 Jakarta, memilih tema buku tahunan tentang euforia anak-anak muda pendukung Persija.  “Arrividerci Persija” adalah judul dari album mereka, artinya “sampai bertemu lagi Persija”. Mereka, memilih judul tersebut, dikarenakan mereka seolah menggambarkan bahwa mereka akan pergi ke kota / Negara lain untuk melanjutkan studi mereka paska mereka lulus SMA, dan apabila mereka telah sukses menyelesaikan studi mereka, mereka akan kembali ke kota Jakarta, dan kembali bertemu Persija. Karena bagi mereka, Persija itu ada, untuk kota Jakarta.
Dalam album foto, mereka bergaya seperti Jakmania-jakmania yang sedang larut dalam suasana mendukung Persija. Tetapi, yang bisa kita ambil dari foto-foto tersebut adalah, mereka seolah ingin menyampaikan kepada kawan-kawan lain bahwa Jakarta itu kotanya Persija. Dan sebagai generasi muda yang lahir, besar dan tumbuh di kota ini, sudah seharusnya, generasi muda mendukung eksistensi Persija dengan caranya masing-masing. Salah satunya yang pasti ya pergi ke stadion, bersama teman-teman untuk mendukung Persija, seperti yang mereka contohkan dalam foto-foto tersebut.
Lain Sheila, lain Harry. Harry,  mahasiswa jurusan Design Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara tahun 2007, memilih tema untuk Tugas Akhirnya yang berisikan tentang  Jakmania dan loyalitasnya sebagai pendukung dari Persija. Di dalam tugas Akhirnya itu, Harry menceritakan tentang loyalitas The Jakmania sebagai pendukung Persija dengan berbagai cara dan bentuk kontribusi yang diberikan, selama bertahun-tahun dan dari masa ke masa. Harry menyampaikan dalam bentuk visualisasi berupa foto mengenai bentuk dukungan The Jak atas Persija. Sehingga, bagi mereka yang melihat Tugas Akhir milik lulusan SMA Negeri 54 tahun 2007 ini, diharapkan akan memiliki pemikiran positif mengenai The Jakmania yang selama ini dianggap rusuh dan brutal oleh masyarakat luas.
Selain dua nama tadi, masih banyak generasi muda Jakarta yang menjadikan Persija Jakarta dan The Jakmania sebagai tema dari kegiatan kuliah/sekolahnya. Semoga, semakin banyak lagi harry dan Sheila yang lain, yang bertindak seperti itu, mencoba memasyarakatkan Persija dan memPersijakan masyarakat seperti dulu, selain dari cara menjadi supporter Persija itu sendiri. Karena, Persija Jakarta itu untuk kota Jakarta, dan kota Jakarta adalah kota dimana kita saat ini berdiri. Semua aspek dalam kota ini, sudah menjadi tanggung jawab kita, untuk dicinta dan dijaga, termasuk Persija Jakarta. (Edja-JO)
READ MORE

Cara memasang gambar animasi lucu di pojok blog (widget animasi blog gratis)

Posted by Master Community On 0 komentar

Cara menampilkan gambar animasi di pojok blog. Terkadang untuk menghias blog agar tampak lebih menarik maka bisa memasang gambar animasi di blog.Bisa ditempatkan di pojok atas (kiri dan kanan), pojok bawah kiri dan kanan, atau semua pojok diisi gambar lucu-lucu.

Untuk menampilkan gambar lucu, cukup copy salah satu script html di bawah ini kemudian masukkan ke dalam gadget html. Script ini saya buat menggunakan kode html ditambah gambar dari situs sweetim.

Contoh dan scriptnya bisa dilihat di bawah ini :
1.Gajah loncat



Script:

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 20px;width:120px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/000203BC.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>




2. Boring


Script :
<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 20px;width:80px;height:120px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002016B.gif" border="0" /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

3.Tuyul ketawa


Script:

<div style="position: fixed; bottom: 0px; right: 20px;width:82px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002031F.gif" border="0" /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


4.Boneka joget


Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 20px;width:82px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002013F.gif" border="0" /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


5. Panda main bola


Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; right: 30px;width:160px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002032D.gif" border="0" /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi-Blog</a></center></small></div>



6. Tuyul baring


Script :
<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 20px;width:120px;height:100px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002031E.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

7. Panda biru



Script

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 20px;width:100px;height:100px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002033D.gif" title="Click to get more." /></a>
<small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

8. Panah



Script:

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:210px;height:120px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020236.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>




9. Bunga




Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:100px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020322.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


10.Anjing laut


Script:

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:110px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/000203B5.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


11.Lumba-lumba


Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:110px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/000203BA.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://www.komputerseo.com" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

12.Kucing tidur



Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:110px;height:140px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/000203C0.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

13.Kelinci


Script :
<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:125px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/000203A0.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


14.Dragon


Script:

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:150px;height:130px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020478.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


15.Ikan


Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:100px;height:130px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020479.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>


16.Pinguin


Script :

<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:110px;height:130px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020484.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

17. Helikopter


Script :
<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 10px;width:110px;height:130px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img border="0" src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020389.gif" title="Click to get more." /></a><small><center><a href="http://pro-styl.blogspot.com/" target="_blank">X-Nine-Animasi</a></center></small></div>

Anda bisa memilih salah satu script di atas kemudian masukkan ke gadget html/javascript. Jika menggunakan blog wordpress gratisan / blogdetik bisa copy script di atas ke widget text html.

Cara memasang widget animasi ke blog :

1. Pilih script yang tersedia

2. Di Dashboard blogger pilih Rancangan - Elemen halaman

3. Pilih Tambah Gadget

4. Pilih HTML/Javascript

5. Masukkan script animasi ke dalam kotak kontent HTML/Javascript




Catatan:


1.Contoh blog yang sudah terpasang widget di atas bisa dilihat disini widget animasi atau disini widget blog
2. Untuk mengganti posisi widget dari sebelah kiri ke kanan ganti tag left menjadi right
Untuk mengubah posisi dari kiri ke kanan ganti tag right menjadi left
Contohnya bisa dilihat di bawah ini
<div style="position: fixed; bottom: 0px; left: 30px;width:160px;height:160px;"><a href="http://www.sweetim.com/s.asp?im=gen&lpver=3&ref=10" target="_blank"><img src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/0002032D.gif" border="0" /></a><small><center><a href="http://www.komputerseo.com" target="_blank">X-Nine-animasi</a></center></small></div>
READ MORE

01-kesha - Tik Tok Cd S� Funk 2010 Volume 4 Mp3
Musicaddict.com

Visitors

free counters

Followers